PENGARUH
INDEPENDENSI, PROFESIONALISME,
TINGKAT
PENDIDIKAN, ETIKA PROFESI, PENGALAMAN,
DAN KEPUASAN
KERJA AUDITOR PADA KUALITAS
AUDIT KANTOR
AKUNTAN PUBLIK DI BALI
Putu Septiani
Futri1
Gede Juliarsa2
1. Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia e-mail: septi_embemm@yahoo.com /
telp: +6285737606852
2. Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh independensi, profesionalisme, tingkat
pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap
kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di Bali.
Penelitian ini
menggunakan data sekunder berupa daftar nama Kantor Akuntan Publik dan data
primer berupa jawaban-jawaban responden dari pengumpulan data kuesioner.
Penelitian ini
menggunakan metode simple random sampling dalam penentuan sampel dan ada 36
sampel yang memenuhi kriteria.
Penelitian ini
menggunakan analisis regresi linear berganda untuk teknik analisis datanya,
dimana hasil penelitian menunjukkan variabel independensi, profesionalisme,
tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman,
dan kepuasan kerja auditor berpengaruh secara simultan terhadap kualitas audit.
Secara parsial hanya tingkat pendidikan dan etika profesi berpengaruh
signifikan terhadap kualitas audit.
PENDAHULUAN
Laporan keuangan
adalah ringkasan dari proses pencatatan atas transaksi-transaksi keuangan yang
terjadi selama tahun berjalan. Laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi
yang diterima umum (Standar Akuntansi Keuangan), yang diterapkan secara
konsisten dan tidak mengandung kesalahan yang material (besar atau immaterial)
adalah laporan keuangan yang wajar.
Pihak internal
perusahaan yaitu manajemen dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan
perusahaan. Manajemen memerlukan informasi keungan untuk mengetahui kondisi
keuangan perusahaan, pengambilan keputusan, dan memudahkan dalam mengelola
perusahaan. Pihak eksternal perusahaan meliputi: kreditor, calon kreditor, investor,
calon investor, kantor pajak, pihak-pihak lain yang tidak terlibat langsung
dalam kegiatan perusahaan tetapi memiliki kepentingan dalam perusahaan agar
mengetahui kemajuan perusahaan di masa yang akan datang. Manajemen harus
membuat sistem pengandalian intern, untuk mengecek ketelitian serta kebenaran
data-data akuntansi yang digunakan, agar perusahaan dapat bersaing dan bahkan
mampu meningkatkan mutunya. Pengendalian intern merupakan pengawasan terhadap
kualitas kinerja stafnya.
Misalnya usaha manajemen
dalam mencegah terjadinya kecurangan atau penggelapan dana terhadap kekayaan
perusahaan. Terjadinya praktek kecurangan yang dilakukan oleh karyawan pada
satu atau bagian dalam organisasi, maka dari itu manajemen harus mengajukan
permohonan audit atas laporan keuangan. Ada dua karakteristik terpenting yang
harus ada dalam laporan keuangan menurutFASB yakni relevan (relevance) dan
dapat diandalkan (reliable). Kedua karakteristik tersebut sulit diukur,
sehingga para pemakai informasi membutuhkan jasa akuntan publik. Jasa dari para
akuntan yang bekerja di suatu Kantor Akuntan Publik (KAP) atau para auditor
eksternal sangat dibutuhkan sebagai jaminan laporan keuangan tersebut memang
relevan serta dapat meningkatkan kepercayaan pihak yang berkepentingan terhadap
perusahaan. Akuntan Publik adalah profesi yang memberikan pelayanan bagi
masyarakat umum, khususnya di bidang audit atas laporan keuangan. Audit ini
dilakukan guna memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan informasi seprti,
investor, kreditor, calon kreditor dan lembaga pemerintah (Boyton & Kell,
2006:16 dalam Suseno 2013).
Jasa yang
diberikan oleh kantor akuntan publik yaitu dalam bidang auditing, dan tipe
penugasan atestasi lain. Tugas akuntan publik yang lain adalah memeriksa
laporan keuangan dan bertanggung jawab atas opini yang diberikan atas kewajaran
laporan keuangan sehingga bisa digunakan sebagai landasan dalam pengambilan
keputusan.
Besarnya
kepercayaan pengguna laporan keuangan pada Akuntan Publik ini mengharuskan
akuntan publik memperhatikan kualitas auditnya. Ironisnya, kepercayaan yang
besar dari pemakai laporan keuangan kepada akuntan publik seringkali diciderai
dengan banyaknya skandal , misalnya saja pada akhir tahun 2001 sebuah
perusahaan terkemuka di dunia yang mempekerjakan sekitar 21.000 orang pegawai
yaitu Enron Corporation akhirnya bangkrut. Kebangkrutan
Enron dianggap sebagai akibat dari kesalahan Akuntan Publik yang tidak dapat
mendeteksi kecurangan yang dilakukan oleh manajemen Enron. Dalam konteks tersebut,
memunculkan pertanyaan apakah kecurangan yang dilakukan oleh manajemen.
Apabila auditor
melakukan hal tersebut maka dapat dipastikan bahwa seberapa bagusnya opini yang
diberikan oleh auditor tidak akan berpengaruh terhadap risiko yang dihadapi
oleh investor dan kreditor.
Independensi,
profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan
kerja auditor menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan fungsi pemeriksaan
karena selain mematangkan pertimbangan dalam penyusunan laporan hasil
pemeriksaan, juga untuk mencapai harapan yakni kinerja yang
berkualitas.Independensi berarti sikap mental yang tidak mudah dipengaruhi.
Sebagai seorang Akuntan Publik tidak dibenarkan untuk terpengaruh oleh
kepentingan siapapun baik manajemen maupun pemilik perusahaan dalam menjalankan
tugasnya. Akuntan publik harus bebas intervensi utamanya dari
kepentingan-kepentingan yang menginginkan tidak ada hasil audit yang merugikan
pihak yang berkepentingan.
Profesionalisme
juga menjadi syarat utama sebagai auditor. Menurut Baotham (2007)
profesionalisme auditor mengacu pada kemampuan dan perilaku profesional.
Kemampuan didefinisikan sebagai pengerahuan, pengalaman, kemampuan beradaptasi,
kemampuan teknis, dan kemampuan teknologi, dan memungkinkan perilaku
profesional auditor untuk mencakup faktor-faktor tambahan seperti transparansi
dan tanggung jawab, hal ini sangat penting untuk memastikan kepercayaan publik.
Tingkat
pendidikan juga sangat diperlukan dalam menentukan kualitas audit. Semakin
banyak pengatahuan yang didapat maka akan memudahkan auditor dalam memecahkan
masalah dalam melaksanakan tugas audit. Menurut Gorda (2004) dalam Laksmi
(2010:21), pendidikan adalah kegiatan untuk meperbaiki dan mengembangkan sumber
daya manusia dengan cara meningkatkan kemampuan dan pengertian tentang
pengetahuan umum dan pengetahuan ekonomi termasuk didalamnya peningkatan
pengetahuan teori dan ketrampilan dalam upaya memecahkan masalah yang dihadapi
perusahaan.
Etika profesi
juga salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas audit. Kode etik juga sangat
diperlukan karena dalam kode etik mengatur perilaku akuntan publik menjalankan
praktik. Abdul Halim (2008: 29) mengungkapkan etika profesional meliputi sikap
para anggota profesi agar idealistis, praktis dan realistis.
Robyn dan Peter
(2008) menemukan bahwa tugas berbasis pengalaman yang diperoleh dapat
meningkatkan kinerja seseorang dalam melaksanakan tugas. Semakin lama
pengalaman kerja yang dimiliki oleh seorang auditor akan menghasilkan kualitas
audit lebih baik ( Rahmatika, 2011).
Faktor lain yang
mempengaruhi kualitas audit adalah kepuasan kerja auditor. Robins (2008:40)
dalam Sarita (2013) mendefinisikan kepuasan kerja ialah suatu rasa positif
seseorang atas karakteristiknya yang dievaluasi. Maka dari itu bila seorang
auditor memiliki kepuasan kerja yang bagus, akan mampu bekerja lebih baik
sehingga menghasilkan kualitas audit yang baik juga.
Kualitas audit
dapat membangun kredibilitas informasi dan kualitas informasi pelaporan
keuangan yang juga membantu pengguna memiliki informasi yang berguna (Hoffman,
Joe dkk., 2003 dalam Chanawongse, 2011).
Terutama,kesempatan
mempromosikan peningkatan yang signifikan dalam auditor profesional dengan
terus belajar yang akan memperkuat kualitas audit karena konsep pembelajaran
yang berkelanjutan telah menjadi penting yang menempatkan prioritas pada
melihat, mengadaptasi dan belajar dari perubahan.
Sehingga menurut
latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Bagaimana pengaruh independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika
profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap kualitas audit pada
Kantor Akuntan Publik di Bali?”
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini
dilakukan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Propinsi Bali yang
merupakan anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Sampel diambil dari
9 KAP yang terdapat di Bali.
Objek penelitian
ini adalah pengaruh independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika
profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap kualitas audit pada
Kantor Akuntan Publik di Bali.
Definisi
operasional dibentuk dengan cara mencari indikator empiris konsep. Seluruh
variabel dalam penelitian ini diukur dengan skala Likert dengan 4 point. Dimana
semakin mengarah ke point 1 maupun point 4 dapat ditentukan bahwa variabel
tersebut berpengaruh atau tidak dalam menentukan kualitas audit.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Berdasarkan
tabel 2 diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan untuk
mencari informasi mengenai variabel independensi, profesionalisme, tingkat
pendidikan, etika profesi, pengalaman, kepuasan kerja dan kualitas audit
dinyatakan Valid.
Hal ini terlihat
dari nilai rhitung > rtabel. Indikator lainnya yang dapat memberikan
informasi adalah nilai probabilitas korelasi yaitu 0,000 artinya nilai tersebut
< 0,05, sehingga variabel independensi profesionalisme, tingkat pendidikan,
etika profesi, pengalaman, kepuasan kerja dan kualitas audit dinyatakan valid.
Tabel 1.
Rangkuman Hasil Uji Validitas
Variabel Penelitian
|
Variabel
|
Item
|
Koefisien
|
Keterangan
|
|
|
Pernyataan
|
Korelasi
|
|||
|
|
|
|||
|
|
X1.1
|
0,917
|
Valid
|
|
|
|
X1.2
|
0,816
|
Valid
|
|
|
|
X1.3
|
0,811
|
Valid
|
|
|
|
X1.4
|
0,836
|
Valid
|
|
|
|
X1.5
|
0,915
|
Valid
|
|
|
|
X1.6
|
0,795
|
Valid
|
|
|
Independensi (X1)
|
X1.7
|
0,883
|
Valid
|
|
|
X1.8
|
0,831
|
Valid
|
||
|
|
X1.9
|
0,887
|
Valid
|
|
|
|
X1.10
|
0,846
|
Valid
|
|
|
|
X1.11
|
0,906
|
Valid
|
|
|
|
X1.12
|
0,893
|
Valid
|
|
|
|
X1.13
|
0,866
|
Valid
|
|
|
|
X1.14
|
0,896
|
Valid
|
|
|
|
|
|
|
|
|
X2.1
|
0,800
|
Valid
|
|
|
|
X2.2
|
0,923
|
Valid
|
|
|
|
X2.3
|
0,911
|
Valid
|
|
|
|
X2.4
|
0,925
|
Valid
|
|
|
|
X2.5
|
0,911
|
Valid
|
|
|
|
X2.6
|
0,887
|
Valid
|
|
|
|
X2.7
|
0,921
|
Valid
|
|
|
Profesionalisme (X2)
|
X2.8
|
0,896
|
Valid
|
|
|
X2.9
|
0,857
|
Valid
|
||
|
|
X2.10
|
0,927
|
Valid
|
|
|
|
X2.11
|
0,873
|
Valid
|
|
|
|
X2.12
|
0,909
|
Valid
|
|
|
|
X2.13
|
0,830
|
Valid
|
|
|
|
X2.14
|
0,971
|
Valid
|
|
|
|
X2.15
|
0,930
|
Valid
|
|
|
|
X2.16
|
0,938
|
Valid
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
X3.1
|
0,911
|
Valid
|
|
|
|
X3.2
|
0,936
|
Valid
|
|
|
Tingkat Pendidikan (X3)
|
X3.3
|
0,928
|
Valid
|
|
|
X3.4
|
0,916
|
Valid
|
||
|
|
||||
|
|
X3.5
|
0,876
|
Valid
|
|
|
|
X3.6
|
0,903
|
Valid
|
|
|
|
X4.1
|
0,883
|
Valid
|
|
|
|
X4.2
|
0,905
|
Valid
|
|
|
|
X4.3
|
0,926
|
Valid
|
|
|
|
X4.4
|
0,900
|
Valid
|
|
|
|
X4.5
|
0,963
|
Valid
|
|
|
|
X4.6
|
0,860
|
Valid
|
|
|
Etika Profesi (X4)
|
X4.7
|
0,936
|
Valid
|
|
|
|
X4.8
|
0,945
|
Valid
|
|
|
|
X4.9
|
0,870
|
Valid
|
|
|
|
X4.10
|
0,946
|
Valid
|
|
|
|
X4.11
|
0,737
|
Valid
|
|
|
|
X4.12
|
0,900
|
Valid
|
|
|
|
X4.13
|
0,930
|
Valid
|
|
|
|
X5.1
|
0,853
|
Valid
|
|
|
|
X5.2
|
0,961
|
Valid
|
|
|
Pengalaman (X5)
|
X5.3
|
0,942
|
Valid
|
|
|
|
X5.4
|
0,969
|
Valid
|
|
|
|
X5.5
|
0,949
|
Valid
|
|
|
|
X6.1
|
0,821
|
Valid
|
|
|
|
X6.2
|
0,942
|
Valid
|
|
|
Kepuasan Kerja Auditor (X6)
|
X6.3
|
0,945
|
Valid
|
|
|
|
X6.4
|
0,891
|
Valid
|
|
|
|
X6.5
|
0,931
|
Valid
|
|
|
|
Y.1
|
0,832
|
Valid
|
|
|
|
Y.2
|
0,983
|
Valid
|
|
|
Kualitas Audit (Y)
|
Y.3
|
0,936
|
Valid
|
|
|
|
Y.4
|
0,970
|
Valid
|
|
|
|
Y.5
|
0,977
|
Valid
|
|
|
|
|
|
|
Sumber: hasil analisis
Tabel 2.
Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Penelitian
|
No
|
Variabel
|
r alpha
|
Kriteria
|
Status
|
|
1
|
Independensi
(X1)
|
0,974
|
0,60
|
Reliable
|
|
2
|
Profesionalisme
(X2)
|
0,984
|
0,60
|
Reliable
|
|
3
|
Tingkat
Pendidikan (X3)
|
0,959
|
0,60
|
Reliable
|
|
4
|
Etika
profesi (X4)
|
0,981
|
0,60
|
Reliable
|
|
5
|
Pengalaman
(X5)
|
0,964
|
0,60
|
Reliable
|
|
6
|
Kepuasan
kerja (X6)
|
0,946
|
0,60
|
Reliable
|
|
7
|
Kualitas
audit (Y)
|
0,975
|
0,60
|
Reliable
|
|
|
|
|
|
|
Sumber: hasil analisis
Berdasarkan
Tabel 2. terlihat bahwa seluruh instrumen atau butir pertanyaan dalam variabel
reliabel. Hal ini terlihat dari seluruh croanbach’s alpha dari masing-masing
variabel nilainya melebihi kriteria yang dipersyaratkan yaitu 0,60.
Tabel 3.
Rangkuman Hasil Uji Normalitas
Variabel Penelitian
|
|
|
|
Multikolinearitas
|
|
|
|
|
Normalitas
|
Variabel
|
|
|
Heteroskedastisitas
|
|
|
Tolerance
|
VIF
|
|||
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Independensi
|
0,345
|
2,896
|
0,783
|
|
|
|
Profesionalisme
|
0,463
|
2,161
|
0,324
|
|
|
0,223
|
|
|
|
|
|
|
|
Tingkat
Pendidikan
|
0,549
|
1,821
|
0,698
|
|
|
|
Etika
Profesi
|
0,423
|
2,361
|
0,749
|
|
|
|
Pengalaman
|
0,354
|
2,824
|
0,499
|
|
|
|
Kepuasan
Kerja
|
0,399
|
2,509
|
0,175
|
|
|
|
Auditor
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sumber: hasil analisis
Hasil
pengujian asumsi klasik pada Tabel 3. menunjukkan bahwa model
pengujian telah
terbebas dari masalah
normalitas
data,multikoliniearitas, dan
heteroskedastisitas
Tabel 4.
Rangkuman Hasil Analisis Regresi
Linier Berganda
|
|
|
|
|
Unstandardized
|
Standardized
|
|
|
|
|
No
|
|
|
Variabel
|
Coefficients
|
Coefficients
|
t
|
Sig.
|
|
|
|
|
B
|
Std.
|
Beta
|
||||
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
Eror
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
|
Konstanta
|
-6,293
|
1,612
|
-3,903
|
-3,903
|
0,001
|
|
|
2
|
|
Independensi (X1)
|
0,081
|
0,045
|
1,819
|
1,819
|
0,079
|
|
|
3
|
|
Profesionalisme (X2)
|
0,064
|
0,032
|
1,982
|
1,982
|
0,057
|
|
|
4
|
|
Tingkat Pendidikan (X3)
|
0,235
|
0,078
|
3,003
|
3,003
|
0,005
|
|
|
5
|
|
Etika Profesi (X4)
|
0,118
|
0,042
|
2,832
|
2,832
|
0,008
|
|
|
6
|
|
Pengalaman (X5)
|
0,218
|
0,114
|
1,908
|
1,908
|
0,066
|
|
|
7
|
|
Kepuasan Kerja Auditor (X6)
|
0,248
|
0,111
|
2,234
|
2,234
|
0,033
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
R2
|
= 0,909
|
|
|
|
|
|
||
|
R
|
= 0,953
|
|
|
|
|
|
||
|
F
Hitung = 48,246
|
|
|
|
|
|
|||
|
F Tabel
|
= 2,43
|
|
|
|
|
|
||
|
t Tabel
|
= 2,05
|
|
|
|
|
|
||
Pengaruh
Independensi pada Kualitas audit
Setelah
dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa independensi tidak berpengaruh
terhadap kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di Bali yang terlihat dari
tingkat signifikansi (0,079)>α (0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan
dengan penelitian Ardani (2010), Saripudin (2012), dan Wulandari (2012).
Namun ada
penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan
Permatasari(2011), Wahyuni (2013) yang menunjukkan bahwa independensi tidak
berpengaruh terhadap kualitas audit. Independensi auditor adalah landasan dari
profesi akuntan publik. Penurunan atau kurangnya independensi auditor adalah
sebuah ancaman, dimana akan menyebabkan banyak perusahaan runtuh dan skandal
korporasi di seluruh dunia. Tanpa independensi kualitas audit dan tugas deteksi
audit akan dipertanyakan, Mansouri dkk. (2009).
Keadaan
seringkali mengganggu independensi auditor, karena ia dibayar klien atas jasanya,
sebagai penjual jasa, auditor cenderung memenuhi keinginan klien (Ling Lin,
2012). Persaingan antar Kantor Akuntan Publik bisa jadi pemicu kurangnya
independensi auditor, sehingga auditor rentan mengikuti kemauan dari klien agar
tidak kehilangan pendapatannya.
Pengaruh
Profesionalisme pada Kualitas Audit
Setelah
dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa profesionalisme tidak berpengaruh
terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari
tingkat signifikansi (0,057) > Alpa (0,05).
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wulandari (2012). Namun
ada penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang
dilakukan Faisal dkk. (2012) yang menyatakan bahwa profesionalisme tidak
berpengaruh terhadap kualitas audit. Untuk meningkatkan kualitas audit, seorang
auditor dituntut agar bertindak profesional dalam melakukan pemeriksaan.
Auditor yang
profesional akan lebih baik dalam menghasilkam audit yang dibutuhkan dan
berdampak pada peningkatan kualitas audit. Adanya peningkatan kualitas audit
auditor maka meningkat pula kepercayaan pihak yang membutuhkan jasa
profesional. Dengan demikian profesionalisme perlu ditingkatkan, karena sangat
penting dalam melakukan pemeriksaan sehingga akan memberikan pengaruh pada
kualitas audit auditor. Harapan masyarakat terhadap tuntutan transparasi dan
akuntabilitas akan terpenuhi jika auditor dapat menjalankan profesionalisme
dengan baik sehingga masyarakat dapat menilai kualitas audit.
Pengaruh Tingkat
Pendidikan pada Kualitas Audit
Setelah
dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa tingkat pendidikan terbukti
berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali
terlihat dari tingkat signifikansi (0,005) < Alpa (0,05). Hal ini menunjukkan semakin tinggi
tingkat pendidikan auditor maka semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap
kualitas audit seorang auditor. Hal ini memberikan suatu gambaran dimana
tingkat pendidikan yang dimiliki seorang auditor akan meningkatkan kualitasnya,
karena dengan jenjang pendidikan yang tinggi, hal ini berkecendrungan kuat akan
meningkatkan wawasan serta kemampuan seorang auditor untuk memegang tanggung
jawab serta meningkatkan perannya dalam menjalankan tugasnya.
Dengan tingkat
pendidikan yang tinggi pula tentunya akses informasi yang dimilikinya menjadi
lebih banyak sehingga kompetensi dalam menjalankan tugas akan semakin meningkat
dan hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitasnya. Hasil penelitian ini
mendukung hasil penelitian Anggraini, Rani, dan Lismawati (2013), yang
menyatakan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh pada kualitas audit.
Pengaruh
Pengalaman pada Kualitas Audit
Setelah
dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa pengalaman tidak berpengaruh positif
terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari
tingkat signifikansi (0,066)>alpa (0,05). Hasil penelitian ini di dukung
oleh penelitian Badjuri (2011) dan Septiari (2013). Hal ini menunjukkan semakin
rendah pengalaman auditor maka semakin rendah pula kualitas audit auditor
tersebut.
Adapun faktor
yang menyebabkan kurangnya pengalaman pada auditor adalah, kurang lamanya
bekerja pada Kantor Akuntan Publik, dalam hal ini adalah audit junior, dan
selain itu kurangnya kompleksitas tugas yang dihadapi auditor, semakin sering
auditor menghadapi tugas yang kompleks maka semakin bertambah pengalaman dan
pengetahuannya. Begitu juga dengan risiko audit yang dihadapi oleh seorang
auditor juga akan dipengaruhi oleh pengalaman dari auditor tersebut.
Auditor akan
berusaha untuk memperoleh bukti-bukti yang diperlukan untuk mendukung judgment
tersebut. Dalam melaksanakan tugas auditnya seorang auditor dituntut untuk
membuat suatu judgment yang maksimal. Untuk itu auditor akan berusaha untuk
melaksanakan tugasnya tersebut dengan segala kemampuannya dan berusaha untuk
mengindari risiko yang mungkin akan timbul dari judgment yang dibuatnya
tersebut.
Pengaruh
Kepuasan Kerja Auditor pada Kualitas Audit
Setelah
dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap
kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat
signifikansi (0,033)<alpa (0,05). Hasil penelitian ini sama dengan
penelitian Gautama dkk. (2010), Widyasari (2010). Respon seseorang meliputi
respon terhadap komunikasi organisasi, supervisor, kompensasi, promosi, teman
sekerja, kebijaksanaan organisasi dan hubungan interpersonal dalam organisasi.
SIMPULAN DAN
SARAN
Berdasarkan
pembahasan di atas, maka simpulan penelitian adalah:
1. Independensi
tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
2. Profesionalisme
tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
3. Tingkat
pendidikan profesionalisme berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
4. Etika
profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
5. Pengalaman
berpengaruh tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
6. Kepuasan
kerja auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
Saran
Berdasarkan
hasil penelitian di atas, saran yang dapat diajukan ialah sebagai berikut :
Dengan tidak
terbuktinya independensi, profesionalisme, pengalaman, dan kepuasan kerja
auditor pada kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali, maka penelitian
ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada pihak Kantor Akuntan Publik
dalam menilai kualitas audit dan lebih meningkatkan independensi, profesionalisme
auditor, selain itu memberikan auditor junior kesempatan lebih banyak dalam
menjalankan profesinya dan Kantor Akuntan Publik memberikan penghargaan pada
auditor-auditor yang sudah bekerja dengan baik, sehingga auditor memiliki
kepuasan kerja dalam melaksankan tugasnya.
Keterbatasan
penelitian ini, yaitu penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data
melalui kuesioner sehingga data yang diperoleh berdasarkan persepsi responden
saja, maka penelitian selanjutanya dapat dilengkapi dengan melakukan observasi
yang lebih mendalam. Dari
hasil uji koefisien determinasi (adjust R square) penelitian ini variabel bebas
mampu menjelaskan variabel terikat sebesar 9,1% sehingga masih ada
variabel-variabel bebas lain yang perlu diindentifikasi untuk menjelaskan kualitas
audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar