Rabu, 25 Juni 2014

Hal Yang Ditakutkan Manusia Di Dunia Perekonomian, Jepang

Dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal terutama yang menjadi pokok permasalahan perekonomian. Pertama adalah masalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat dikategorikan baik jika angka pertumbuhan positif dan bukannya negatif. 

Kedua adalah masalah inflasi. Inflasi adalah indikator pergerakan harga-harga barang dan jasa secara umum, yang secara bersamaan juga berkaitan dengan kemampuan daya beli. Inflasi mencerminkan stabilitas harga, semakin rendah nilai suatu inflasi berarti semakin besar adanya kecenderungan ke arah stabilitas harga. Namun masalah inflasi tidak hanya berkaitan dengan melonjaknya harga suatu barang danjasa. Inflasi juga sangat berkaitan dengan purchasing power atau daya beli darimasyarakat. Sedangkan daya beli masyarakat sangat bergantung kepada upah riil. Inflasi sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika kenaikan harga dibarengi dengan kenaikan upah riil. 

Masalah ketiga adalah pengangguran. Memang masalah pengangguran telah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Negara berkembang seringkali dihadapkan dengan besarnya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarnya jumlah penduduk. 

Sempitnya lapangan pekerjaan dikarenakan karena faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi. Masalah pengangguran itu sendiri tidak hanya terjadi dinegara-negara berkembang namun juga dialami oleh negara-negara maju seperti Jepang. Namun masalah pengangguran di negara-negara maju jauh lebih mudah terselesaikan dari pada di negara-negara berkembang karena hanya berkaitan dengan pasang surutnya business cycle dan bukannya karena faktor kelangkaan investasi, masalah ledakan penduduk, ataupun masalah sosial politik di negara tersebut.

Kali ini postingan saya membahas tentang hal yang ditakutkan manusia di dunia perekonomian, kenapa demikian ? saya akan menerangkan nya dalam bentuk tulisan di bawah ini.

A. Pengangguran

a.1. Tingkat Pengangguran di Provinsi Okinawa dan Jepang

Struktur Ekonomi Dependensi ini membuat persekonomian Okinawa mengalami ketergantungan terhadap subsidi dan investasi pemerintah pusat Jepang. Selain itu juga, Okinawa mengalami ketergantungan terhadap perekonomian dari basis militer AS di Okinawa. Tingkat pengangguran yang tinggi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah daripada provinsi-provinsi lainnya di Jepang, membuat Okinawa menjadi provinsi termiskin di Jepang.

Keterbelakangan ekonomi Okinawa ini akibat dampak dari konflik yang ada di Struktur Ekonomi Dependensi antara kepentingan Jepang (pusat) dan Amerika Serikat yang mendominasi kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi di Okinawa, sehingga mengakibatkan posisi di Okinawa menjadi inferior di bidang politik, ekonomi, dan budaya, yang menekan kesempatan hidup, kualitas hidup, dan taraf ekonomi masyarakat Okinawa sampai saat ini.

a.2. Dampak Struktur Ekonomi Despendensi

Struktur ekonomi despendensi di Okinawa antara Pemerintah pusat Jepang dan Okinawa adalah suatu struktur yang membuat ekonomi Okinawa sangat tergantung kepada pendapatan dari basis-basis militer Amerika, dan di sisi lain Okinawa juga tidak bisa terlepas dari subsidi dan investasi Pemerintah pusat Jepang dalam hal proyek pekerjaan umum dan industry turisme. Tiga pendapatan utama yang mempengaruhi Okinawa ini patut disebut 3K, yaitu Kichi (basis militer), Koukyou Kouji (proyek pekerjaan umum), dan Kankou (industry turisme).

Pada tahun 2004, Industri kontruksi di Okinawa menyumbang sekitar 7,75% atau 276,8 milyar Yen untuk GPP provinsi Okinawa. Kemudian bidang industry turisme atau pariwisata telah menghasilkan 407,1 milyaran Yen atau 10,5% untuk pendapatan ekonomi local di Okinawa pada tahun 2005 dan telah menjadi sumber pendapatan yang potensial sampai saat ini.

Eksistensi basis-basis militer AS di Okinawa pun ternyata menuai pro dan kontra dari kalangan masyarakat provinsi Okinawa. Pro-nya adalah masyarakat yang telah mendapatkan keuntungan dari kehadiran basis militer AS di tanah merek. Mereka adalah para pemilik tanah yang menyewakan tanahnya untuk pembangunan basis militer. Total uang sewa yang telah diterima para pemilik tanah tersebut adalah sekitar 77,5 miliar Yen pada tahun 2005 dan terus meningkat dari tahun 1972 karena keberadaan basis militer AS di Okinawa, Jepang. Walaupun begitu, jumlah para pekerja Okinawa kini telah menurun drastic, dari sejumlah 18.118 pekerja pada tahun 1972 menjadi 8.928 pekerja pada tahun 2005.

Apabila masyarakat Okinawa tidak mau menerima kehadiran basis militer tersebut, maka pemerintah pusat mengancam akan mencabut subsidinya, termasuk investasi dalam bidang industry turisme yang saat ini telah berkembang pesat dan menjadi pengharapan bagi perekonomian provinsi. Apabila subsidi dari pemerintah dicabut, maka kesempatan kerja di Okinawa akan semakin berkurang, dan dapat berkembang menjadi masalah pengangguran yang semakin bertambah di kemudian hari.

a.3. Dampak Struktur Ekonomi Dependensi Terhadap Tingginya Tingkat Pengangguran di Okinawa

Menurut Survei Angkatan Kerja Provinsi Okinawa, rata-rata tingkat pengangguran di Profinsi Okinawa pada tahun 2008 mencapai 7,4% dan merupakan yang tertinggi diantara provinsi dan kota-kota lainnya di Jepang. Grafik tersebut terus meningkat hamper dua kali lipat rata-rata tingkat pengangguran nasioanl. Pada bulan desember tahun 2008, tingkat pengangguran yang tingg dialami oleh kelompok usia 15-24 yahun, yaitu sekitar 15,2%. Kemudian diikuti oleh kelompok usia 25-34 tahun (9,9%) dan usia 35-44 tahun (4,5%).

Tabel 1 : Rata-rata Presentase Tingkat Pengangguran di Okinawa

Tahun
Total
Pria
Wanita
2000
7,9
8,3
7,5
2001
8,4
9,1
7,5
2002
8,3
8,4
8,2
2003
7,8
8,4
6,9
2004
7,6
8,5
6,3
2005
7,9
8,5
7,0
2006
7,7
8,5
6,6
2007
7,4
8,1
6,3
2008
7,4
8,3
6,2

Sumber : Offical Website Okinawa, Jepang (www.pref.okinawa.jp)

Sedangkan, tingkat pengangguran di Jepang pada bulan Juni dilaporkan turun 0,2 poin presentase menjadi 3,9 persen. Tingkat pengangguran tercatat berada dibawah 4 persen yang merupakan untuk pertama kalinya terjadi sejak Oktober 2008. Kementrian dalam negeri Jepang mengatakan, angka pengangguran di jepang kini berjumlah 2,6 juta atau turun sebesar 280 ribu disbanding tahun lalu. Laporan lebih lanjut juga menyebutkan jumlah tenaga kerja yang berkerja mencapai 63 juta orang. Sementara pihak kementerian tenaga kerja mengatakan, peningkatan ketersediaan tenaga kerja pada bulan Juni yang sekaligus merupakan kenaikan bulan keempat secara berturut.

Rasio tawaran perkerjaan disbanding pencari kerja tercatat sebesar 0,92. Dimana hal itu berarti terdapat 92 penawaran kerja untuk setiap 100 pencari perkerjaan. Rasio tercatat naik 0,02 poin dibanding bulan Mei. Secara rinci industry, hotel, dan restoran mencatat pembukuan peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 13,5 persen. Sementara industry mobil dan mesin transportasi lain dilaporkan menambahkan 27 persen lapangan kerja baru (from situs : m.bbc.co.uk or bbc.com

Laporan dari Biro Statistik pada bulan Oktober 2013, dimana laporan menunjukan pengangguran di wilayah Jepang tidak mengawalami perubahan di bulan Oktober. Presentase dari total tenaga kerja yang menganggur dan sedang aktif mencari pekerjaan selam bulan Oktober lalu tetap tidak mengalami perubahan sebasar 4,0%, dari 4,0% dibulan sebelumnya.

Setelah dirilisnya data tersebut, USD/JPY diperdagangkan di level 102.25, EUR/JPY diperdagangkan di level 139.12, dan GBP/JPY diperdagangkan di level 167.07 (from situs : Financeroll.co.id

a.4. Sensus Penduduk di Provinsi Okinawa dan Jepang

Sensus penduduk diperlihatkan bahwa jumlah populasi di Provinsi Okinawa pada tahun 2008 adalah 1.377.708 jiwa, sedangkan jumlah penduduk Jepang adalah 127.692.000 jiwa (Statistic Bureau Japan).

Tabel 2 : Jumlah Penduduk Okinawa

Name
Status
1985
1995
2000
2005
2008
2009
Okinawa
Pref.
1.179,097
1.273.440
1.318.220
1.361.594
1.377.708
1.381.961
Name
Status
2004
2006
2008
2010
2012
2014
Jepang
Pref.







Penduduk kelompok usia 0-14 tahun dihitung sekitar 17,9% dari total populasi penduduk Okinawa, sedangkan di Jepang berjumlah 13,5% dari total keseluruhan populasi penduduk Jepang. Untuk populasi usia kerja (15-64 tahun) di Okinawa adalah sejumlah 64,9% dari total populasi penduduk Okinawa dan 64,5% dari total populasi penduduk di Jepang. Sedangkan rasio usia > 65 tahun di Okinawa adalah 17,2% dan di Jepang berjumlah 22,1%. Bila dibandingkan dengan Mainland Jepang, populasi (> 65 tahun) lebih rendah dibandingkan di Jepang, rasio lebih tinggi untuk populasi anak muda (0-14 tahun) di Okinawa, dan untuk usia produktif (15-64 tahun) hamper melebihi rata-rata nasional setiap tahunnya.

Tabel 3 : Rasio Jumlah Populasi Jepang dan Okinawa Tahun 2008 Berdasarkan Usia

Propinsi
Populasi usia anak-anak (0-14 tahun) (%)
Populasi usia produktif (15-64 tahun) (%)
Populasi usia senja ( > 65 tahun) (%)
Populasi usia ( > 75 tahun) (%)
Japan
13,5
64,5
22,1
10,4
Okinawa
17,9
64,9
17,2
8,2

Sumber : Japan Statistic Bureau, Ministry of Internal Affairs and Communications
(www..stat.go.jp)

a.5. Tanggapan Pemerintah Jepang Dalam Menghadapi Masalah Pengangguran di Okinawa, Jepang

Okinawa adalah provinsi yang mandiri dan berusaha mengembangkan perekonomiannya sendiri tanpa bergantung lagi dengan basis militer AS. Oleh karena itu, pemerintah jepang membuat program Okinawa Fukko Kaihatsu Keikaku untuk mengubah nasip profinsi Okinawa yang dahulu bergantung kepada basis militer Amerika Serikat, menjadi profinsi yang mandiri dan maju secara industry.

Seperti Okinawa Fukko Kaihatsu Keikaku atau Rencana Pembangunan Ekonomi Provinsi Okinawa, secara garis besar dibagi menjadi tiga periode, yaitu : Periode Pertama dilaksanakan dari tahun 1972 sampai tahun 1981. Kemudian, periode kedua dimulai pada tahun 1982 sampai tahun 1991. Lalu, periode ketiga atau yang terakhir yaitu pada tahun 1992 sampai tahun 2001. Tujuannya adalah untuk mengubah provinsi Okinawa menjadi lebih setara dengan provinsi-provinsi lainnya di mainland jepang dan membangun kota cosmopolitan yang mandiri di Okinawa. Kemudian, membuat sebuah area yang dipertunjukan untuk perekonomian dan industry di Okinawa atau dengan kata lain untuk menyangga tujuan program Okinawa Fukko Kaihatsu Keikaku periode satu dan dua. Dengan dibuatnya area industry ini diharapkan provinsi Okinawa dapat membangun sebuah zona perdagangan bebas atau Free Trade Zone demi terciptanya landasan perekonomian yang mandiri dan berkesinambungan di Okinawa dan sekaligus untuk menghadapi tantangan globalisasi ekonomi.

B. Inflasi

Tingkat inflasi di Jepang diperlihatkan bahwa pada bulan Juli 2013 tingkat inflasinya masih stabil atau tidak ada inflasi dalam artian permintaan di Negara ini masih kurang karena  yaitu -0,3%. Satu bulan berikutnya, tingkat inflasi meningkat beberapa poin menjadi 0,2%, ini adalah kabar baik karena peredaran mata uang (giral, kertas, maupun logam) bertambah akibat permintaan pasar. Pada bulan September 2013, tingkat inflasi bertambah 0,5 poin menjadi 0,7%. Lalu, kita bisa lihat pada bulan Januari 2014 tingkat inflasinya menjadi 1,5%, dan terus meningkat hingga bulan Juni 2014.

Dimana dengan meningkatnya inflasi terus menerus, maka taraf perekonomian di Negara tersebut bisa semakin maju dan terkendali, bahkan bisa meningkatkan pendapatan nasional karena tingkatan inflasinya masih dalam tahap ringan (kurang dari 10% /tahun). Tetapi sangat memprihatinkan bahwasannya para Konsumen Jepang akan menghadapi suku bunga dan harga bahan pangan dan pokok naik dari standar tahun-tahun sebelumnya. Apalagi ketika diketahui bahwa tingkat inflasi pada bulan Juni meningkat hingga 3,4%. Ini adalah petaka bagi para Konsumen miskin di provinsi-provinsi Jepang dan Jepang Pusat.

Menurut BBC, kenaikan pajak jual-beli menyebabkan harga konsumen di Jepang pada bulan April membumbung pesat selama 23 tahun terakhir. Harga meninggi 3,2% dibandingkan periode sama tahun lalu, melewati perkiraan analisis yang hanya mengalami kenaikan sebesar 3,1%. Pemerintah menaikan pajak jual beli dari 5% menjadi 8% pada 1 April 2014 lalu. Selama dua decade terakhir Jepang berjuang melawan deflasi dan penurunan harga. Para pembuatan kebijakan menyatakan menghentikan siklus tersebut adalah kunci untuk memulihkan kondisi ekonomi Jepang.

Pemerintah Jepang menempuh berbagai proses beberapa bulan terakhir untuk menanggulangi tren ini dan menargetkan angka inflasi sebesar 2%. Harga konsumen berangsurangsur membaik selama 11 bulan terakhir. Data yang dirilis pada Jumat (30/5) menunjukkan pengeluaran rumah tangga turun 4,6% dibulan April dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menyusul penurunan 4,4% pada industry ritel pada bulan yang sama. (sumber : m.bbc.co.uk).

Sumber Data :

Hidehiko, Sogano. “Recent economic developments og Japan and Okinawa”. 1 September 2006. www.boj.or.jp

Higashide, M., Brinkhoff, Thomas. “Japan: Okinawa, Prefectur Population”. City Population. 25 Maret 2009. www.citypopulation.de/Japan-Okinawa.html

Japan, Ministry of internal Affairs and Communications, Statistics Bureau, Director General of Policy Planning and Statictical Research and training Institute. Lobour Source Survey: Unemployment Rate by Age. May 2009. www.stat.go.jpn

Japan. Okinawa Prefecture. Millitary Base Affairs Division. Outline of the U.S. facilities and Areas. Maret 2009. www.pref.okinawa.jp.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar