Rabu, 25 Juni 2014

Hal Yang Ditakutkan Manusia Di Dunia Perekonomian, Jepang

Dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal terutama yang menjadi pokok permasalahan perekonomian. Pertama adalah masalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat dikategorikan baik jika angka pertumbuhan positif dan bukannya negatif. 

Kedua adalah masalah inflasi. Inflasi adalah indikator pergerakan harga-harga barang dan jasa secara umum, yang secara bersamaan juga berkaitan dengan kemampuan daya beli. Inflasi mencerminkan stabilitas harga, semakin rendah nilai suatu inflasi berarti semakin besar adanya kecenderungan ke arah stabilitas harga. Namun masalah inflasi tidak hanya berkaitan dengan melonjaknya harga suatu barang danjasa. Inflasi juga sangat berkaitan dengan purchasing power atau daya beli darimasyarakat. Sedangkan daya beli masyarakat sangat bergantung kepada upah riil. Inflasi sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika kenaikan harga dibarengi dengan kenaikan upah riil. 

Masalah ketiga adalah pengangguran. Memang masalah pengangguran telah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Negara berkembang seringkali dihadapkan dengan besarnya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarnya jumlah penduduk. 

Sempitnya lapangan pekerjaan dikarenakan karena faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi. Masalah pengangguran itu sendiri tidak hanya terjadi dinegara-negara berkembang namun juga dialami oleh negara-negara maju seperti Jepang. Namun masalah pengangguran di negara-negara maju jauh lebih mudah terselesaikan dari pada di negara-negara berkembang karena hanya berkaitan dengan pasang surutnya business cycle dan bukannya karena faktor kelangkaan investasi, masalah ledakan penduduk, ataupun masalah sosial politik di negara tersebut.

Kali ini postingan saya membahas tentang hal yang ditakutkan manusia di dunia perekonomian, kenapa demikian ? saya akan menerangkan nya dalam bentuk tulisan di bawah ini.

A. Pengangguran

a.1. Tingkat Pengangguran di Provinsi Okinawa dan Jepang

Struktur Ekonomi Dependensi ini membuat persekonomian Okinawa mengalami ketergantungan terhadap subsidi dan investasi pemerintah pusat Jepang. Selain itu juga, Okinawa mengalami ketergantungan terhadap perekonomian dari basis militer AS di Okinawa. Tingkat pengangguran yang tinggi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah daripada provinsi-provinsi lainnya di Jepang, membuat Okinawa menjadi provinsi termiskin di Jepang.

Keterbelakangan ekonomi Okinawa ini akibat dampak dari konflik yang ada di Struktur Ekonomi Dependensi antara kepentingan Jepang (pusat) dan Amerika Serikat yang mendominasi kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi di Okinawa, sehingga mengakibatkan posisi di Okinawa menjadi inferior di bidang politik, ekonomi, dan budaya, yang menekan kesempatan hidup, kualitas hidup, dan taraf ekonomi masyarakat Okinawa sampai saat ini.

a.2. Dampak Struktur Ekonomi Despendensi

Struktur ekonomi despendensi di Okinawa antara Pemerintah pusat Jepang dan Okinawa adalah suatu struktur yang membuat ekonomi Okinawa sangat tergantung kepada pendapatan dari basis-basis militer Amerika, dan di sisi lain Okinawa juga tidak bisa terlepas dari subsidi dan investasi Pemerintah pusat Jepang dalam hal proyek pekerjaan umum dan industry turisme. Tiga pendapatan utama yang mempengaruhi Okinawa ini patut disebut 3K, yaitu Kichi (basis militer), Koukyou Kouji (proyek pekerjaan umum), dan Kankou (industry turisme).

Pada tahun 2004, Industri kontruksi di Okinawa menyumbang sekitar 7,75% atau 276,8 milyar Yen untuk GPP provinsi Okinawa. Kemudian bidang industry turisme atau pariwisata telah menghasilkan 407,1 milyaran Yen atau 10,5% untuk pendapatan ekonomi local di Okinawa pada tahun 2005 dan telah menjadi sumber pendapatan yang potensial sampai saat ini.

Eksistensi basis-basis militer AS di Okinawa pun ternyata menuai pro dan kontra dari kalangan masyarakat provinsi Okinawa. Pro-nya adalah masyarakat yang telah mendapatkan keuntungan dari kehadiran basis militer AS di tanah merek. Mereka adalah para pemilik tanah yang menyewakan tanahnya untuk pembangunan basis militer. Total uang sewa yang telah diterima para pemilik tanah tersebut adalah sekitar 77,5 miliar Yen pada tahun 2005 dan terus meningkat dari tahun 1972 karena keberadaan basis militer AS di Okinawa, Jepang. Walaupun begitu, jumlah para pekerja Okinawa kini telah menurun drastic, dari sejumlah 18.118 pekerja pada tahun 1972 menjadi 8.928 pekerja pada tahun 2005.

Apabila masyarakat Okinawa tidak mau menerima kehadiran basis militer tersebut, maka pemerintah pusat mengancam akan mencabut subsidinya, termasuk investasi dalam bidang industry turisme yang saat ini telah berkembang pesat dan menjadi pengharapan bagi perekonomian provinsi. Apabila subsidi dari pemerintah dicabut, maka kesempatan kerja di Okinawa akan semakin berkurang, dan dapat berkembang menjadi masalah pengangguran yang semakin bertambah di kemudian hari.

a.3. Dampak Struktur Ekonomi Dependensi Terhadap Tingginya Tingkat Pengangguran di Okinawa

Menurut Survei Angkatan Kerja Provinsi Okinawa, rata-rata tingkat pengangguran di Profinsi Okinawa pada tahun 2008 mencapai 7,4% dan merupakan yang tertinggi diantara provinsi dan kota-kota lainnya di Jepang. Grafik tersebut terus meningkat hamper dua kali lipat rata-rata tingkat pengangguran nasioanl. Pada bulan desember tahun 2008, tingkat pengangguran yang tingg dialami oleh kelompok usia 15-24 yahun, yaitu sekitar 15,2%. Kemudian diikuti oleh kelompok usia 25-34 tahun (9,9%) dan usia 35-44 tahun (4,5%).

Tabel 1 : Rata-rata Presentase Tingkat Pengangguran di Okinawa

Tahun
Total
Pria
Wanita
2000
7,9
8,3
7,5
2001
8,4
9,1
7,5
2002
8,3
8,4
8,2
2003
7,8
8,4
6,9
2004
7,6
8,5
6,3
2005
7,9
8,5
7,0
2006
7,7
8,5
6,6
2007
7,4
8,1
6,3
2008
7,4
8,3
6,2

Sumber : Offical Website Okinawa, Jepang (www.pref.okinawa.jp)

Sedangkan, tingkat pengangguran di Jepang pada bulan Juni dilaporkan turun 0,2 poin presentase menjadi 3,9 persen. Tingkat pengangguran tercatat berada dibawah 4 persen yang merupakan untuk pertama kalinya terjadi sejak Oktober 2008. Kementrian dalam negeri Jepang mengatakan, angka pengangguran di jepang kini berjumlah 2,6 juta atau turun sebesar 280 ribu disbanding tahun lalu. Laporan lebih lanjut juga menyebutkan jumlah tenaga kerja yang berkerja mencapai 63 juta orang. Sementara pihak kementerian tenaga kerja mengatakan, peningkatan ketersediaan tenaga kerja pada bulan Juni yang sekaligus merupakan kenaikan bulan keempat secara berturut.

Rasio tawaran perkerjaan disbanding pencari kerja tercatat sebesar 0,92. Dimana hal itu berarti terdapat 92 penawaran kerja untuk setiap 100 pencari perkerjaan. Rasio tercatat naik 0,02 poin dibanding bulan Mei. Secara rinci industry, hotel, dan restoran mencatat pembukuan peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 13,5 persen. Sementara industry mobil dan mesin transportasi lain dilaporkan menambahkan 27 persen lapangan kerja baru (from situs : m.bbc.co.uk or bbc.com

Laporan dari Biro Statistik pada bulan Oktober 2013, dimana laporan menunjukan pengangguran di wilayah Jepang tidak mengawalami perubahan di bulan Oktober. Presentase dari total tenaga kerja yang menganggur dan sedang aktif mencari pekerjaan selam bulan Oktober lalu tetap tidak mengalami perubahan sebasar 4,0%, dari 4,0% dibulan sebelumnya.

Setelah dirilisnya data tersebut, USD/JPY diperdagangkan di level 102.25, EUR/JPY diperdagangkan di level 139.12, dan GBP/JPY diperdagangkan di level 167.07 (from situs : Financeroll.co.id

a.4. Sensus Penduduk di Provinsi Okinawa dan Jepang

Sensus penduduk diperlihatkan bahwa jumlah populasi di Provinsi Okinawa pada tahun 2008 adalah 1.377.708 jiwa, sedangkan jumlah penduduk Jepang adalah 127.692.000 jiwa (Statistic Bureau Japan).

Tabel 2 : Jumlah Penduduk Okinawa

Name
Status
1985
1995
2000
2005
2008
2009
Okinawa
Pref.
1.179,097
1.273.440
1.318.220
1.361.594
1.377.708
1.381.961
Name
Status
2004
2006
2008
2010
2012
2014
Jepang
Pref.







Penduduk kelompok usia 0-14 tahun dihitung sekitar 17,9% dari total populasi penduduk Okinawa, sedangkan di Jepang berjumlah 13,5% dari total keseluruhan populasi penduduk Jepang. Untuk populasi usia kerja (15-64 tahun) di Okinawa adalah sejumlah 64,9% dari total populasi penduduk Okinawa dan 64,5% dari total populasi penduduk di Jepang. Sedangkan rasio usia > 65 tahun di Okinawa adalah 17,2% dan di Jepang berjumlah 22,1%. Bila dibandingkan dengan Mainland Jepang, populasi (> 65 tahun) lebih rendah dibandingkan di Jepang, rasio lebih tinggi untuk populasi anak muda (0-14 tahun) di Okinawa, dan untuk usia produktif (15-64 tahun) hamper melebihi rata-rata nasional setiap tahunnya.

Tabel 3 : Rasio Jumlah Populasi Jepang dan Okinawa Tahun 2008 Berdasarkan Usia

Propinsi
Populasi usia anak-anak (0-14 tahun) (%)
Populasi usia produktif (15-64 tahun) (%)
Populasi usia senja ( > 65 tahun) (%)
Populasi usia ( > 75 tahun) (%)
Japan
13,5
64,5
22,1
10,4
Okinawa
17,9
64,9
17,2
8,2

Sumber : Japan Statistic Bureau, Ministry of Internal Affairs and Communications
(www..stat.go.jp)

a.5. Tanggapan Pemerintah Jepang Dalam Menghadapi Masalah Pengangguran di Okinawa, Jepang

Okinawa adalah provinsi yang mandiri dan berusaha mengembangkan perekonomiannya sendiri tanpa bergantung lagi dengan basis militer AS. Oleh karena itu, pemerintah jepang membuat program Okinawa Fukko Kaihatsu Keikaku untuk mengubah nasip profinsi Okinawa yang dahulu bergantung kepada basis militer Amerika Serikat, menjadi profinsi yang mandiri dan maju secara industry.

Seperti Okinawa Fukko Kaihatsu Keikaku atau Rencana Pembangunan Ekonomi Provinsi Okinawa, secara garis besar dibagi menjadi tiga periode, yaitu : Periode Pertama dilaksanakan dari tahun 1972 sampai tahun 1981. Kemudian, periode kedua dimulai pada tahun 1982 sampai tahun 1991. Lalu, periode ketiga atau yang terakhir yaitu pada tahun 1992 sampai tahun 2001. Tujuannya adalah untuk mengubah provinsi Okinawa menjadi lebih setara dengan provinsi-provinsi lainnya di mainland jepang dan membangun kota cosmopolitan yang mandiri di Okinawa. Kemudian, membuat sebuah area yang dipertunjukan untuk perekonomian dan industry di Okinawa atau dengan kata lain untuk menyangga tujuan program Okinawa Fukko Kaihatsu Keikaku periode satu dan dua. Dengan dibuatnya area industry ini diharapkan provinsi Okinawa dapat membangun sebuah zona perdagangan bebas atau Free Trade Zone demi terciptanya landasan perekonomian yang mandiri dan berkesinambungan di Okinawa dan sekaligus untuk menghadapi tantangan globalisasi ekonomi.

B. Inflasi

Tingkat inflasi di Jepang diperlihatkan bahwa pada bulan Juli 2013 tingkat inflasinya masih stabil atau tidak ada inflasi dalam artian permintaan di Negara ini masih kurang karena  yaitu -0,3%. Satu bulan berikutnya, tingkat inflasi meningkat beberapa poin menjadi 0,2%, ini adalah kabar baik karena peredaran mata uang (giral, kertas, maupun logam) bertambah akibat permintaan pasar. Pada bulan September 2013, tingkat inflasi bertambah 0,5 poin menjadi 0,7%. Lalu, kita bisa lihat pada bulan Januari 2014 tingkat inflasinya menjadi 1,5%, dan terus meningkat hingga bulan Juni 2014.

Dimana dengan meningkatnya inflasi terus menerus, maka taraf perekonomian di Negara tersebut bisa semakin maju dan terkendali, bahkan bisa meningkatkan pendapatan nasional karena tingkatan inflasinya masih dalam tahap ringan (kurang dari 10% /tahun). Tetapi sangat memprihatinkan bahwasannya para Konsumen Jepang akan menghadapi suku bunga dan harga bahan pangan dan pokok naik dari standar tahun-tahun sebelumnya. Apalagi ketika diketahui bahwa tingkat inflasi pada bulan Juni meningkat hingga 3,4%. Ini adalah petaka bagi para Konsumen miskin di provinsi-provinsi Jepang dan Jepang Pusat.

Menurut BBC, kenaikan pajak jual-beli menyebabkan harga konsumen di Jepang pada bulan April membumbung pesat selama 23 tahun terakhir. Harga meninggi 3,2% dibandingkan periode sama tahun lalu, melewati perkiraan analisis yang hanya mengalami kenaikan sebesar 3,1%. Pemerintah menaikan pajak jual beli dari 5% menjadi 8% pada 1 April 2014 lalu. Selama dua decade terakhir Jepang berjuang melawan deflasi dan penurunan harga. Para pembuatan kebijakan menyatakan menghentikan siklus tersebut adalah kunci untuk memulihkan kondisi ekonomi Jepang.

Pemerintah Jepang menempuh berbagai proses beberapa bulan terakhir untuk menanggulangi tren ini dan menargetkan angka inflasi sebesar 2%. Harga konsumen berangsurangsur membaik selama 11 bulan terakhir. Data yang dirilis pada Jumat (30/5) menunjukkan pengeluaran rumah tangga turun 4,6% dibulan April dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menyusul penurunan 4,4% pada industry ritel pada bulan yang sama. (sumber : m.bbc.co.uk).

Sumber Data :

Hidehiko, Sogano. “Recent economic developments og Japan and Okinawa”. 1 September 2006. www.boj.or.jp

Higashide, M., Brinkhoff, Thomas. “Japan: Okinawa, Prefectur Population”. City Population. 25 Maret 2009. www.citypopulation.de/Japan-Okinawa.html

Japan, Ministry of internal Affairs and Communications, Statistics Bureau, Director General of Policy Planning and Statictical Research and training Institute. Lobour Source Survey: Unemployment Rate by Age. May 2009. www.stat.go.jpn

Japan. Okinawa Prefecture. Millitary Base Affairs Division. Outline of the U.S. facilities and Areas. Maret 2009. www.pref.okinawa.jp.








Senin, 23 Juni 2014

Naga Jepang Yang Membara

Pada posting kali ini saya akan menjelaskan kembali tentang Peta Perekonomian Negara Jepang, yaitu Keadaan Geografis, Mata Pencaharian, Sumber Daya Manusia, Investasi, Pendapatan Nasional, Tingkat Kemiskinan, hingga Perkembangan dan Pembangunan Ekonomi.

A. Keadaan Geografis Jepang


Peta diatas kalian amati kenapa saya bisa memberi judul dalam tulisan ini Naga Jepang Yang Membara ? Karena pada Negara Jepang sendiri bila dilihat dari peta seperti Naga, Pulau Hokkaido sendiri seperti bentuk kepala naga.

Kenyataan pertama yang harus diakui adalah bahwa Jepang merupakan kepulauan yang terletak lepas pantai timur Benua Asia, membentang seperti busur yang ramping sepanjang 3.800 km, dari 200 sampai 45033’ lintang utara. Luas totalnya adalah 377.815 km2 – sedikit lebih luas dari pada Inggris, hanya 1/9 dari luas India dan 1/25 dari Amerika Serikat – dan kurang dari 0,3% dari luas daratan bumi. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau utama – Honshu, Hokkaido, Kyushu, dan Shikoku (berurut dari besar sampai kecil), sejumlah gugusan pulau dan sekitar 3.900 pulau yang lebih kecil lagi. Pulau Honshu memiliki luas lebih dari 60% dari seluruh Kepulauan Jepang.

Kenyataan kedua adalah Pulau – pulau Jepang terletak di daerah iklim sedang, dan di ujung barat laut dari daerah angin yang terbentang dari Jepang melalui Semenanjung Korea, China, dan Asia Tenggara sampai sejauh India. Iklimnya pada umumnya sedang, hampir semua bagian daerah Jepang mengenal empat musim yang berbeda. Musim panas yang sangat hangat dan lembab, mulai sekitar pertengahan bulan Juli. Sebelumnya terdapat musim hujan selama hampir satu bulan, kecuali di Hokkaido pulau yang paling utara, yang tidak kenal musim hujan sama sekali. Musim dingin di sisi Pasifik cenderung sedang, dengan banyak hari cerah, sedangkan di sisi Laut Jepang cuaca cenderung mendung. Musim semi dan musim gugur adalah musim terbaik sepanjang tahun, dengan hari-hari yang berhawa lembut dan matahari cerah di seluruh negeri.

Kenyataan ketiga ialah Topografi Jepang yang rumit berlainan dengan iklimnya yang relative baik. Tercipta banyak daerah pegunungan dengan sejumlah besar lembah, sungai yang deras dan danau yang jernih. Kawasan gunung meliputi sekitar 71% dari seluruh luas tanah Jepang menurut survey dari lembaga Survai Geografi Kementerian Pembangunan pada tahun 1972. Lebih dari 532 gunung tersebut tingginya di atas 2.000m ; Gunung Fuji menjulang paling tinggi, yakni 3.776m.

B. Mata Pencaharian Jepang

Dari keseluruhan wilayah yang di miliki oleh Jepang, dapat di tarik beberapa hal di antaranya bahwa :

  • Pertama, Sejumlah tiga perempat dari total penghasilan ekonomi Jepang berasal dari sektor jasa. Industri utama sektor jasa di Jepang berupa bank, asuransi, realestat, bisnis eceran, transportasi, dan telekomunikasi. Mitsubishi UFJ, Mizuho, NTT, TEPCO, Nomura, Mitsubishi Estate, Tokio Marine, Japan Railway, Seven & I, dan Japan Airlines adalah nama-nama perusahaan Jepang yang termasuk perusahaan terbesar dunia. Kebijakan Pemerintah Jepang di masa Perdana Menteri Junichiro Koizumi melakukan swastanisasi Japan Post. Enam keiretsu utama terdiri dari grup Mitsubishi, Sumitomo, Fuyo, Mitsui, Dai-Ichi Kangyo, dan Sanwa. Sejumlah 326 perusahaan Jepang berada dalam daftar Forbes Global 2000 atau 16,3% dari total perusahaan dalam daftar Forbes Global 2000 pada tahun 2006.
  • Kedua, Industri ekspor utama Jepang adalah otomotif, elektronik konsumen (lihat industri elektronik konsumen Jepang), komputer, semikonduktor, besi, dan baja. Industri penting lain dalam ekonomi Jepang adalah petrokimia, farmasi, bioindustri, galangan kapal, dirgantara, tekstil, dan makanan yang diproses. Industri manufaktur Jepang banyak bergantung pada impor bahan mentah dan bahan bakar minyak. Kawasan industri tersebar di sejumlah prefektur. Di wilayah Kantō, kawasan industri berada di Chiba, Kanagawa, Saitama, dan Tokyo (kawasan industri Keihin). Di wilayah Tōkai, kawasan industri Chukyo-Tokai berada di Aichi, Gifu, Mie, dan Shizuoka. Di wilayah Kansai, kawasan industri Hanshin berada di Osaka, Kyoto, dan Kobe. Kawasan industri Setouchi mencakup barat daya Pulau Honshu dan bagian utara Shikoku sekitar Laut Pedalaman Seto, sementara di Kyushu, kawasan industri berada di bagian utara Kyushu (Kitakyūshū).
  • Ketiga, Walaupun hanya 12% dari luas daratan di Jepang yang bisa dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan. Besarnya hasil pertanian didukung oleh kesuburan lahan pertanian karena tanah yang mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi maju. Sektor pertanian adalah sektor yang diproteksi pemerintah dan menerima subsidi dalam jumlah besar. Hasil pertanian Jepang berupa padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, dan teh. Hasil peternakan berupa babi, ayam, telur, sapi dan susu. Sayur-sayuran berupa lobak, kubis, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah apel dan jeruk. Apel merupakan produk unggulan Tohoku dan Hokkaido. Buah pir merupakan produk pertanian unggulan Prefektur Tottori. Perkebunan jeruk berada di Shikoku, Shizuoka, dan Kyushu. Tanaman pir dan jeruk dibawa masuk ke Jepang oleh pedagang Belanda di Nagasaki pada akhir abad ke-18. Padi adalah tanaman pangan yang sangat diproteksi pemerintah Jepang. Beras impor dikenakan bea masuk 490% dan pembatasan kuota sebesar 7,2% dari rata-rata konsumsi beras tahun 1968 hingga 1988. Impor di luar kuota tidak dilarang, namun dikenakan bea masuk \341 per kilogram. Tarif bea masuk beras impor yang sekarang (490%) diperkirakan akan naik menjadi 778% menurut perhitungan baru yang akan diberlakukan sesuai Putaran Doha. Walaupun Jepang biasanya dapat melakukan swasembada beras (kecuali beras untuk membuat senbei dan makanan olahan), Jepang harus mengimpor 50% dari kebutuhan konsumsi serealia dan bergantung pada impor daging. Jepang mengimpor gandum, sorgum, dan kedelai dalam jumlah besar, terutama dari Amerika Serikat. Jepang merupakan pasar terbesar bagi ekspor pertanian Uni Eropa.
  • Dan keempat, Jepang menempati urutan ke-2 di dunia di belakang Republik Rakyat Tiongkok dalam tonase penangkapan ikan (tahun 1989: 11,9 juta ton), kenaikan tipis dari 11,1 juta ton pada tahun 1980. Setelah terjadi krisis minyak 1973, perikanan laut dalam di Jepang menurun. Pada tahun 1980-an, total tangkapan ikan per tahun rata-rata 2 juta ton. Perikanan lepas pantai mencapai 50 % dari penangkapan ikan total pada akhir 1980-an, meski beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan. Perikanan pesisir dilakukan dengan perahu kecil, jala, atau teknik penangkaran terhitung sekitar sepertiga produksi total industri perikanan Jepang. Sementara itu, perikanan lepas pantai dengan kapal ukuran menengah terhitung sekitar lebih dari separuh produksi total. Di antara hasil laut yang diambil misalnya: sarden, cakalang, kepiting, udang, salem, cumi-cumi, kerang, tuna, saury, yellowtail, dan makerel. Jepang termasuk salah satu negara yang memiliki armada perikanan terbesar di dunia. Walaupun demikian, Jepang adalah negara pengimpor hasil laut terbesar di dunia (senilai AS$ 14 miliar). Sejak tahun 1996, Jepang berada di peringkat ke-6 dalam total tangkapan ikan di bawah RRT, Peru, Amerika Serikat, Indonesia, dan Chili.  Jepang juga menebarkan kontroversi dengan mendukung perburuan ikan paus.

C. Sumber Daya Manusia di Jepang

Dapat dilihat bahwa model manajemen di Jepang selain dipengaruhi oleh manajemen barat juga dipengaruhi olegh nilai-nilai budayanya. Karena pengaruh tersebut maka terbentuklah model manajemen yang sangat terkenal dan sudah diakui keberhasilannya oleh dunia khususnya negara-negara barat, sebagai model manajemen alternatif di samping berbagai macam model manajemen yang diperkenalkan oleh negara-negara barat.

Dalam model manajemen Jepang tersebut dikenal model manajemen yang terdiri dari tiga pilar penting. Ketiga pilar tersebut adalah pekerjaan seumur hidup ( shuushin koyou ), pemberian upah berdasarkan pada senioritas ( nenkoujouretsu ), dan serikat pekerja berbasis korporasi ( kigyou betsu kumiai ). Apabila melihat pada ketiga pilar tersebut maka model manajemen tersebut menunjukkan suatu pola atau tipe pekerja yang relatif homogen, yaitu tipe pekerja reguler atau pekerja purna waktu dengan kontrak kerja yang tidak ditetapkan.

Dalam bukunya Hideo Inohara mengatakan perusahaan-perusahan di Jepang sangat jelas membedakan antara pekerja dan karyawan reguler dan pekerja non reguler. Karyawan reguler dipekerjakan oleh perusahaan untuk periode waktu yang tak tentu lebih dari satu tahun. Hal ini dikarenakan Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan ( The Labor Standards Act ) Jepang melarang kontrak kerja yang lebih dari satu tahun.

Umumnya tenaga kerja reguler ini berasal dari lulusan sekolah menengah dan universitas yang hanya ingin bekerja pada satu perusahaan sepanjang masa karir mereka. Di Jepang hanya tenaga kerja laki-laki yang diklasifikasikan sebagai tenaga kerja reguler, dan semakian besar suatu perusahaan maka semakin tinggi persentase tenaga kerja ini. Menurut Inagami dalam buku Whitehill suatu studi yang dilakukan oleh Japan Institute of Labour menunjukkan bahwa perusahaan dengan 1000 tenaga kerja atau lebih, memiliki 73 persen tenaga kerja reguler. Tetapi sebaliknya perusahaan kecil atau perushaan yang sebagian besar mempekerjakan tenaga buruh ( blue-collar worker ) mungkin hanya memiliki 20 persen atau kurang dari 20 persen tenaga kerja reguler.

D. Jepang dan Investasi

Jepang mulai menunjukkan keberadaannya sebagai salah satu investor utama dunia pada tahun 1950an. Ini berlangsung hingga tahun 1960an dengan skala investasi yang terbatas. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh dua hal, yaitu :

  1. Hancurnya sumber manajerial perusahaan-perusahaan pada masa Perang Dunia II. Selanjutnya di tahun 1945-1960an Jepang berusaha mengejar ketinggalan industrinya dengan mengimpor teknologinya serta mencari pinjaman modal kepada negara lain sebagai usaha untuk membangun kembali perekonomiannya.
  2. Jepang baru mampu menyerap tenaga kerjanya secara penuh bagi lapangan pekerjaan pada tahun 1960an. Keadaan ini menimbulkan fenomena baru dimana mulai terbatasnya kuantitas tenaga kerja bagi sektor perekonomian Jepang.
E. Pendapatan Nasional Jepang

GNI Jepang, 1970.

GNI Jepang pada tahun 1970 adalah bernilai 208,8 milyar dolar AS, peringkat ke 4 di dunia dan setara dengan GNI Jerman (210,1 milyar dolar AS). GNI Jepang di dunia adalah 6,2%.

GNI per kapita di Jepang pada tahun 1970 adalah senilai 2013,3 dolar AS. Peringkat ke-35 di dunia dan setara dengan GNI per kapita di Italia (2.057,6 dolar AS), GNI per kapita di Austria (2.017,3 dolar AS). GNI per kapita di Jepang lebih dari GNI per kapita di Dunia (908,4 dolar AS) oleh 1.104,9 dolar AS.

Perbandingan GNI Jepang dan tetangga pada tahun 1970. GNI Jepang lebih, dari GNI China (92 miliar dolar AS), GNI Korea (9,1 miliar dolar AS). GNI per kapita di Jepang lebih dari GNI per kapita di Korea (287,8 dolar AS), GNI per kapita di China (113,2 dolar AS).

Perbandingan GNI Jepang dan para pemimin pada tahun 1970. GNI Jepang kurang dari GNI Amerika Serikat (1076,9 miliar dolar AS) dalam 5,2 kali GNI Uni Soviet (433,4 miliar dolar AS) pada 2,1 kali GNI Jerman (210,1 dolar AS) sebesar 0,62%. GNI per kapita di Jepang lebih, dari GNI per kapita di Uni Soviet (1790 dolar AS) sebesar 12,5%, tapi kurang dari GNI per kapita di Amerika Serikat (5.130,8 dolar AS) dalam 2,5 kali  GNI per kapita di Jerman (2.649,8 dolar AS) sebesar 31,6%.

Potensi GNI Jepang pada tahun 1970. Dengan GNI per kapita di Jepang pada tingkat GNI per kapita di Amerika Serikat ( 5.130,8 dolar AS), GNI Jepang akan menjadi  532,1 miliar dolar AS itu adalah 323,3 miliar dolar AS (154,8%) lebih dari tingkat yang sebenarnya.

GNP Jepang, 2012

GNI Jepang pada tahun 2012 adalah sebesar 6149,2 miliar dolar AS, peringkat ke-3 di dunia. GNI Jepang di dunia adalah 8,5%.


GNI per kapita di Jepang pada tahun 2012 adalah senilai 48.323,8 dolar AS, Peringkat ke-18 di dunia dan setara dengan GNI per kapita di Belanda (46.507,7 dolar AS ), GNI per kapita di Austria (46.316,4 dolar AS). GNI per kapita di Jepang lebih dari GNI per kapita di dunia (10.255 dolar AS) dengan 38.068,8 dolar AS.

Perbandingan GNI Jepang dan tetangga pada tahun 2012. GNI Jepang lebih, dari GNI Rusia (1963 miliar dolar AS), GNI Korea (1135,9 miliar dolar AS), tapi kurang dari GNI China (8203,9 dolar AS). GNI per kapita di Jepang lebih dari GNI per kapita di Korea (23.180,4 dolar AS), GNI per kapita di Rusia (13.711,4 dolar AS), GNI per kapita di China (5.957,8 dolar AS).

Perbandingan GNI Jepang dan para pemimpin pada tahun 2012. GNI Jepang lebih dari GNI Jerman (3507,8 miliar dolar AS) dengan 75,3%, tapi kurang dari GNI Amerika Serikat (16514,5 miliar dolar AS) di 2,7 kali GNI Cina (8203,9 miliar dolar AS) sebesar 33,4%. GNI per kapita di Jepang lebih dari GNI per kapita di Jerman (42.364 dolar AS) sebesar 14,1%, GNI per kapita di China (5.957,8 dolar AS) di 8,1 kali, tapi kurang dari GNI per kapita di Amerika Serikat (52.013,1 dolar AS) sebesar 7,6%.

Potensi GNI Jepang pada tahun 2012. Dengan GNI per kapita di Jepang pada tingkat GNI per kapita di Amerika Serikat (52.013,1 dolar AS), GNI Jepang akan menjadi 6618,7 miliar dolar AS, itu adalah 469,5 miliar dolar AS (7,6%) lebih dari tingkat yang sebenarnya.

F. Kemiskinan di Jepang

The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) terus daftar Jepang dekat bagian bawah statistik menunjukkan persentase penduduk yang hidup dalam kemiskinan. Menurut data terbaru, diperbarui pada bulan April 2011, 15,7 persen orang Jepang hidup dalam kemiskinan, di atas rata-rata 11 persen untuk negara-negara anggota OECD, dan keenam terburuk dari 34 negara yang diteliti.

Tingkat kemiskinan di Jepang lebih tinggi dibandingkan negara-negara dengan sumber daya jauh lebih ekonomis, seperti Republik Slovakia (6,5 persen), Slovenia (7,2 persen), dan Polandia (10,1 persen). Mungkin lebih mengkhawatirkan adalah bahwa masalah tampaknya semakin buruk. Peningkatan tahunan rata-rata di angka kemiskinan di Jepang sejak tahun 1985 telah 1,3 persen, di atas rata-rata 1,0 persen dari semua negara anggota OECD.

Sementara statistik kemiskinan yang paling terakhir untuk Jepang baik dibandingkan dengan Amerika Serikat, yang memiliki tingkat kemiskinan 17,3 persen, statistik OECD menunjukkan situasinya membaik di AS, di mana angka kemiskinan rata-rata tahunan telah menunjukkan penurunan dari 0,7 persen sejak tahun 1985 .

Mengutip seorang pejabat pemerintah, cerita baru-baru ini di The Guardian menyatakan telah terjadi 700 kematian akibat kelaparan di Jepang sejak tahun 2000. Para ahli telah menyarankan bahwa sementara ada program kesejahteraan pemerintah untuk membantu mereka yang paling membutuhkan, ada juga hambatan sosial dan budaya untuk menerima bantuan.

"Beberapa orang memiliki ketahanan terhadap gagasan menerima kesejahteraan atau menghubungi pihak berwenang setempat," Takehiro Yoshida, seorang pengacara kesejahteraan, mengatakan dalam surat kabar Asahi Shimbun. "Yang lain dibiarkan terisolasi di komunitas mereka sendiri."

Kejatuhan ekonomi dari bencana nuklir Fukushima Maret 2011 masih dirasakan di Jepang, dan ketidakpastian dalam beberapa sektor ekonomi telah menyebabkan hilangnya pekerjaan bagi pekerja setengah baya. Di negara yang sudah memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi di antara orang tua dan cacat, komplikasi lebih lanjut seperti tantangan yang signifikan dalam bekerja menuju solusi.

G. Pertumbuhan dan Perkembangan Perekonomian Jepang

Sekitar dasawarsa 1960-an, masyarakat Jepang telah pulih samasekali dari kemiskinan dan kekacauan yang terjadi setalah perang. Namun perekonomiannya masih sedang-sedang saja bila diukur dengan standart Internasional. Penghasilan perkapita pertahunnya hanya $ 400, persis dibawah Italia $ 550. Di Inggris raya dan Perancis, tingkatannya mencapai $ 1.000, dan di Amerika Serikat, Kanada, dan Swiss mencapai $ 2.000. bagi orang Jepang angka-angka itu dinilai tinggi sekali.

GNP (Gross National Product) 1980 Jepang melebihi $ 1 trilyun bila dikalkulasikan dengan nilai tukar yen-dollar rata-rata tahun itu. GNP 1986 adalah sebesar $ 1,98 trilyun. Pada tahun 1966-lah GNP melebihi angka $ 100 milyar untuk pertama kali. Kenaikan yang terjadi sejak saat itu hingga sekarang hampir mencapai $ 2 trilyun, meskipun bukan merupakan ukuran pertumbuhan dalam istilah nyata, betapapun memang mencolok. Dan Jepang adalah salah satu Negara di Asia yang merupakan Negara raksasa Ekonomi Dunia. 

Dalam sebuah proyeksi yang disusun oleh Hernan Khan dari Hudson Institue di Amerika Serikat, dia memproyeksikan 4 skenario bagi perkembangan kekuatan ekonomi Jepang ketahun 2.000 dan ber-kesimpulan bahwa GNP Jepang dapat mencapai 11/2 trilyun dolar (ditingkat rendah) atau 41/2  trilyun ditingkat tertinggi.

Proyeksi lengkapnya sebagai berikut :

LAJU PERKEMBANGAN TAHUNAN UNTUK GNP JEPANG 1970 – 2000
Tabel 5.1

Masa keuangan yang diproyeksikan

Rendah

Resmi

Sedang

Tinggi
1971 – 1975
1976 – 1980
1981 – 1985
1986 – 2000
8,5
7,5
6,5
4,0
10,6
10,6
8,6
6,0
11,8
11,4
10,8
7,5
14,9
13,4
11,6
8,6
1971 - 2000
5,9
8,8
9,4
11

PROYEKSI GNP JEPANG 1970 – 2000
(DALAM BILIUN DOLAR) – NILAI DOLAR 1970
Tabel 5.2

Tahun
Rendah
Resmi
Sedang
Tinggi
1970
1975
1980
1985
2000
200
300
450
600
1.500
200
330
550
825
2.000
200
350
600
1.000
2.000
200
400
750
1.300
4.500

Penjelasan :
Kolom “resmi” sebenarnya tidaklah resmi. Ia adalah anggapan,bahwa dalam masa sepuluh tahun mendatang (proyeksi ini dibuat di tahun 1970) laju perkembangan yang sama (10,6% setahun) akan berlaku, seperti yang diperkirakan Japanese Economic Planning Agency. 

Pada tahun fiscal 1974, setelah krisis minya yang pertama ekonomi Jepang mengalami pertumbuhana negatifnya yang pertama dalam GNP yang sebenarnya dalam masa setelah perang, sementara harga-harga perdagangan besar dan konsumen masing-masing melonjak 31,4% dan 24,3%. Kenaikan dalam harga minyak mentah membengkakkan biaya impor Jepang dan memerosotkan saldo rekening Koran menjadi deficit sebesar $ 4,7 miliar. Jepang terancam krisis ekonomi dan pesimisme melanda seluruh dunia bisnis. Tetapi, ekonomi melambung kembali dari pukulan krisis minyak tahun 1973 segera tak lama kemudian. Angka pertumbuhan kembali berada pada tingkat 3% pada tahun 1975 dan berkisar antara 3 – 6% dari tahun 1976 – 1986.

Selama 1985, Jepang menjadi kreditor dunia yang terbesar dan pada akhir 1986 netto kekayaan diluar negeri mencapai $ 180,4 miiar. AS sebelumnya kreditor terbesar didunia, telah menjadi debitur pada akhir 1985, dengan netto hutang sebanyak $ 111,9 miliar dan pada akhir 1986 hutang tersebut telah membengkak menjadi $ 263,6 miliar.

REKENING NASIONAL
(Nyata, harga CY 1980, % kenaikan dari periode sebelumnya)

Tahun
Tahun
Tahun
Tahun

Fiskal '83
Fiskal '84
Fiskal '85
Fiskal '86
Produk nasional bruto (TF '86=100%)
3.7
5.1
4.3
2.6
Konsumsi Swasta (55.8%)
3
2.6
2.6
3
Penanaman modal wisata dalam pabrik




  dan peralatan (18.7%)
4.9
11.4
12.9
4.8
Penanaman modal wisata dalam




  perumahan (5.3%)
-8.9
0.5
2.9
13.1
Peningkatan inventaris swasta (0.3%)
-20.2
95.4
8.7
-59.7
Konsumsi Pemerintah (9.7%)
3.5
2.6
1.9
6.8
Penanaman modal Pemerintah (7.4%)
-2.2
-2.9
-6.4
7.3
Surplus ekstern (2.6%)
135.7
48.8
19.9
-36.6
  Ekspor barang, jasa & pemindahan (17.5%)
8.7
15.5
1.8
-3.2
  Impor barang, jasa & pemindahan (15,0%)
-0.5
9.8
-2.4
6.3

Pada bulan Mei 1987, pemerintah mengumumkan sebuah paket tindakan ekonomi darurat yang meliputi antara lain tambahan pengeluaran pekerjaan umum sebanyak 5 triliun Yen dan pengurangan pajak pendapatan yang bernilai lebih dari 1 triliun Yen. Dalam anggaran TF 1988, pemerintah meningkatkan pengeluaran pekerjaan umum dengan sekitar 20% diatas jumlah semula pada anggaran TF 1987. Sector swasta juga sedang berusaha akan mempertahankan kedudukan Jepang dalam masyarakat internasional melalui pengembangan struktur industry yang berorientasikan ke permintaan dalam negeri.

Anggaran belanja umum merupakan landasan dari keuangan pemerintah Jepang. Sejak krisis minyak tahun 1973, pemerintah memperluas pengeluarannya, kebanyakan dalam pekerjaan umum untuk mendorong pemulihan dalam ekonomi nasional. Pengeluaran umum secara total tidak termasuk pembayaran hutang dan distribusi pajak alokasi-lokal, dijaga dibawah tingkat tahun sebelumnya dalam 5 anggaran belanja tahunan berturut-turut mulai tahun fiscal 1983. Total volume hutang pemerintah yang belum dilunaskan bertambah dan diperkirakan mencapai 159 triliun Yen pada akhir tahun fiscal 1988 (April 1987 – Maret 1988). Perhatikan table dibawah ini :

ANGGARAN BELANJA DAN PENDAPATAN
TAHUN FISKAL 1988 (TABEL 5.5)


Yen Miliar
% perubahan dari

tahun fiskal

sebelumnya (1987)
Anggaran umum
56670
4.8
   Pembayaran Hutang
11512
1.6
   Transfer ke pemda-pemda
10906
7.1
Pengeluaran Umum
32982
1.2
   Jaminan Sosial
10384
2.9
   Pekerjaan Umum
6082
0
Pendidikan & Ilmu

   Pengetahuan
4858
0.2
Pertahanan
3700
5.2
Bantuan Ekonomi
682
5.1
Investasi Fiskal


Program Pinjaman
29614
9.4

Penjelasan dari tabel diatas adalah bahwa, adapun nilai anggaran belanja umum tahun 1988 adalah 56,7 triliun Yen, yakni 4,8% lebih tinggi daripada anggaran awal dari tahun fiscal sebelumnya. Total pengeluaran umum naik untuk pertama kali sejak 1983 sebanya 1,2% menjadi 33,0 triliun Yen. Pengeluaran untuk pekerjaan umum tetap berada pada tingkat yang sama seperti tahun seblumnya dalam hal total pengeluaran umum tapi bertambah sebanyak 19,9% menjadi 7,2 triliun Yen dari pendapatan saham NTT. 

Pemasukan dari pajak-pajak dan materai untuk tahun fiscal 1988 diperkirakan berjumlah 45,1 triliun Yen, yakni kenaikan sebesar 9,5% dari tahun fiscal 1987. Pemasukan ini serta pemasukan non-pajak masih meninggalkan kekuarangan sebesar 8,8triliun Yen yang ditutupi dengan pengeluaran pemerintah. Jumlah ini kurang 1,7 triliun Yen dari volume yang dikeluarkan tahun sebelumnya. Ratio ketergantungan pada pembiayaanhutang untuk tahun yang bersangkutan adalah 15,6% yakni turun dari tingkat 19,4% pada tahun 1987. Sementara itu, biaya-biaya pembayaran hutang meningkat sebesar 1,6% menjadi 11,5 triliun Yen.

Investasi fiscal dan program pinjaman, yang terpisah dari belanja umum dan kerap disebut “anggaran kedua” menyediakan pembiayaan sebesar 29,6 triliun Yen dalam tahun fiscal 1988, naik 9,4% dari tahun sebelumnya.

Sumber Data :

Wakaba, Shinjuku-ku, 1989. Jepang Dewasa Ini – Royal wakaba, International Society For Educational Infromation, Tokyo – Japan.

Badan Manajemen dan Koordinasi, Nihon no tokei (Statistik Jepang), 1987 Kementerian Perdangan Internasional dan Industri, Tsusho hakusho. (Buku Putih mengenai Perdagangan Internasional ), 1987.

^ "http://www.skillclear.co.uk/japan/default.asp"

^ "The State of World Fisheries and Aquaculture 2006". FAO Fisheries and Aquaculture Department FAO. 2007. ISBN 978-92-5-105568-7. Diakses 2009-03-02.

^ The World Almanac and book of facts 2008. World Almanac Books. 2008. hlm. 94. ISBN 1-60057-072-0.

^ http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/4118990.stm Japanese whaling 'science' rapped

Inohara, Hideo, 1990, Human Resource Development in Japanese Companies, Asian Productivity Organization, Tokyo, hlm. 4

Whitehill, Arthur M., 1991, Japanese Management: Tradition and Transition, Routledge, London, hlm. 130

Sekiguchi, Sueko. Japanese Direst Foreignt Investment. USA: Publications Press, Inc., 1979, hlm. 7-9

http://kushnirs.org/macroeconomics/gni/gni_japan.html

http://theglobalintelligence.com/2012/04/03/poverty-in-japan/

KemenKeu, Boeki Tokei (Statistik Perdagangan)

Shinjuku-ku, Wakaba. 1989. Jepang Dewasa Ini. International Society for Education Information, inc., Tokyo, Japan

Sakamato, Taro. 1992. Jepang dulu dan sekarang (Japanese History). International Society for Educatinal Information Press, Inc., Chuo-ku, Tokyo, Japan.

President Akiyama, Teruji. 1989. Sebuah Pedoman Saku Jepang, Foreign Press Center, Japan.